
Para pengunjung blog sekalian, Hari raya Idul Fitri 1430 H baru saja berlalu. Dan pastinya banyak sekali jenis makanan, minuman dan camilan yang sudah kita nikmati pada saat itu.
Diantara jamuan tersebut tentunya para blogger sekalian ada yang menyantap hidangan istimewa yakni tapai/tape ketan. Karena begitu pula dengan Aku, hidangan lemang tapai adalah memang sajian yang harus ada disaat hari Raya ini.
Tentu kita semua juga mengetahui bahwa proses pembuatan tapai ketan adalah merupakan hasil dari beras ketan yang sudah matang kemudian diberi/ditaburi ragi, kemudian melalui proses fermentasi, maka jadilah tapai. Secara ilmiah memang Aku tidak mengetahui apa kandungan yang terdapat pada tapai ketan itu, karena setelah ketan menjadi tapai maka tidak ada proses perubahan bentuk yang berarti dari sebelumnya, hanya saja ketan yang sebelumnya kering menjadi basah dan berair serta aromanya pun sangat berbeda. Aku rasa aku tidak perlu lagi menjelaskan seperti apa aromanya dan pastinya para pembaca sudah mengetahuinya. Sungguh nikmat sekali menikmati tapai ketan ini, jika hasil yang didapat adalah tapai ketan yang manis rasanya dan banyak airnya. Karena tidak tertutup kemungkinan bahwa proses pembuatan tapai pun gagal sehingga rasanya menjadi asam, katanya sih itu karena raginya yang kurang bagus dan juga penanganan yang kurang hygine waktu pembuatannya.
Lho....koq jadi ngomongin tapai ketan ya... hi hi hi.
Sebetulnya dalam postingan kali ini yang ingin Aku angkat adalah masalah hasil proses fermentasi dari pembuatan tapai itu sendiri, karena hal itu hampir mirip dengan pembuatan teh Kombucha. Aroma dan rasa juga tidak jauh berbeda. Meskipun tidak jauh, tapi tetap aja ada bedanya, kalau tapai ketan itu medianya ada nasi ketan tapi kalau teh Kombucha ada teh (baik teh hitam maupun teh hijau). Yang membedakan adalah yaitu wujud aslinya tadi, dari ketan tetap ketan dan dari teh ya tetap teh. Jadi bedanya dimana ya...?.
Hmmm... dari beberapa literatur yang Aku dapat bahwa proses fermentasi tapai diperoleh karena adanya kerja beberapa fungi/jamur diantaranya adalah rhizopus (Kalo seingatku waktu zaman SMP dulu ini adalah jamur tempe), saccharomyces, aspergillus, mucor, amilomyces, endomycopsis, bakteri acetobackter dll.Dan tentunya hal ini juga tidak beda jauh dengan proses fermentasi yang terjadi pada teh Kombucha dimana kandungan yang terdapat pada teh Kombucha ini diantaranya adalah acetobacter xylinium, bacterium gluconum, acetobacter kategonum, picha fermentans serta sacharomyces dll. Hampir sama khan?, tapi mohon maaf banget ya... Aku kurang faham dengan istilah-istilah tersebut dan semoga tidak dipermasalahkan.
Berkenaan dengan perpedaan pendapat masalah teh Kombucha ini apakah halal atau haram, Aku sangat setuju sekali dengan pendapat dari Pak Nandra (Lihat postinganku sebelumnya), sangat bijak sekali Beliau memutuskan karena Beliau pasti memiliki ensiklopedi ilmu yang sangat lengkap untuk bisa memutuskan.
Jadi kalau kita memang ragu, maka tinggalkan.
Yang pasti adalah segala sesuatu jika dikonsumsi berlebihan akan membawa kepada kerugian.
Salam, dheeta.